Pelaku Pembakaran Batik “Sekar Jagad” Ternyata Residivis


Polres Pamekasan saat merilis penangkapan Abdus Salam, pelaku kasus vedio mesum yang dilakukan di ruang tunggu kantor pemkab timur dan vedionya menyebar ke berbagai media sosial.

WARTAMADURA.COM – Salah satu pelaku pembakaran batik tulis motif “Sekar Jagad” yang membuat para perajin batik di Kabupaten Pamekasan, Madura tersinggung, karena aksinya dinilai sebagai bentuk penghinaan atas karya seni para perajin, ternyata merupakan seorang residivis.

Pelaku yang bernama Abdus Salam itu, sudah berulang kali keluar masuk penjara, karena terlibat kasus tindak pidana kriminal. Salah satunya kasus pemukulan pada wartawan Radar Madura Moh Amiruddin, dan kasus pelecehan seksual yang dilakukan di kantor Pemda Timur, Pamekasan.

Situs tribunnews.com pada 17 Oktober 2014 melansir, Abdus Salam merupakan satu dari lima orang terpidana yang terlibat dalam kasus itu. Empat terpidana lainnya masing-masing bernama Mohammad Yasin, Turmudi, Erfan, dan Sukari. Mereka dijatuhi hukuman masing-masing 3 bulan kurungan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pamekasan saat pembacaan putuan Kamis (16/10/2014). [Baca Juga: Warisan Budaya Dunia dari Indonesia Dibakar di Madura]

vonis hukuman terhadap Abdus Salam dan teman-temannya tersebut sama seperti tuntutan jaksa kala itu, Syafe’I, yang juga menuntut 3 bulan penjara dipotong masa tahanan.

Aksi bakar warisan budaya dunia dari Indonesia (batik) oleh pengunjuk rasa saat menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Pemkab Pamekasan, Madura, Jawa Timur pada 18 September 2019.

Dengan divonis 3 bulan ini, demikian situs berita online nasional itu memberitakan, maka kelima terdakwa masih harus meneruskan sisa masa tahanan, sampai Kamis (4/12/2014). Sebab, terdakwa menjadi tahanan titipan Kejaksaan Negeri (Kejari) Pamekasan, sejak Kamis (4/9/2014).

Dalam amar putusanya, Ketua Majlis Hakim Heri Kurniawan kala itu menyatakan, berdasarkan keterangan saksi yang hadirkan ke persidangan dan alat bukti yang diajukan. Serta pengakuan terdakwa, kelimanya terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindakan yang melanggar hukum, seperti dakwaan jaksa. [Baca Juga: Menelusuri Rekam Jejak Pembakar Batik Tulis Pamekasan]

Terpidana Abdus Salam bersama empat temannya, selama itu juga mengaku wartawan, mengeroyok wartawan harian Pamekasan, Andre Hafid reporter RRI kala itu, dan Amiruddin yang saat kejadian sebagai Kepala Biro Radar Pamekasan, dijebloskan ke Lembaga Pemasyakatan (Lapas) Pamekasan, Kamis (4/9/2014) lalu, sekitar pukul 14.30. WIB. (Sumber: Tribunnews.com, 17 Oktober 2014).

Selain kasus kekerasan, tindak pidana lain yang pernah dilakukan oleh pembakar batik “Sekar Jagad” Abdus Salam adalah kasus vedio mesum dan pihak pengadilan menetapkan laki-laki yang pernah ditangkap Polres Pamekasan karena mabuk di tempat umum ini, bersalah dan divonis hukuman penjara 8 bulan. [Baca Juga: Mengungkap Rekam Jejak Khairul Kalam dalam Framing Media]

Abdus Salam tergeletak di Mapolres Pamekasan dalam kondisi mabuk saat ditangkap tim Polres Pamekasan karena minum-minuman keras di tempat umum.

Situs radarmadura.jawapos.com, 05 Januari 2018 memberitakan, dalam kasus itu, Abdus Salam yang juga mantan calon legislatif dari Partai Perindo nomor urut 2 dari Kecamatan Pademawu ini, dalam kasus tersebut sebagai pemeran laki-laki, sedangkan pemeran perampuannya bernama Adezta Mellany. Ia divonis hukuman 8 bulan penjara.

Haryanto selaku kuasa hukum Abdus Salam kala itu mengatakan, vonis yang dijatuhkan kepada kliennya jauh lebih ringan dari tuntutan. Jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Pamekasan menuntut Abdus Salam hukuman 1 tahun penjara dan denda Rp100 juta subsider 3 bulan penjara. Sementara vonis hakim 8 bulan penjara dan denda Rp1 juta subsider 2 bulan. ”Vonis hakim menurut kami ringan. Jadi, tidak perlu mengajukan banding atas putusan terhadap klien kami,” katanya, kala itu. [Baca Juga: Media Officer Madura United Dipukul LSM di Kantor Dewan]

Bahkan, Haryanto, demikian media itu memberitakan, mengaku puas dengan vonis rendah hakim. Namun, di lain sisi merasa kecewa. Sebab, kliennya dianggap tidak melanggar perbuatan bermuatan pornografi seperti yang didakwakan.

Pasal yang dijeratkan juga dinilai kurang tepat, yakni Pasal 36 juncto Pasal 10 UU 44/2008 tentang Pornografi. Kemudian, juncto pasal 55 (1) ke 1 KUHP. Barang bukti (BB) yang ditunjukkan penyidik merupakan video yang sudah tersebar luas di masyarakat.

Haryanto juga menyesalkan kinerja polisi. Sebab, yang ditangkap hanya Abdussalam. Sementara Adezta Mellany, yang statusnya masuk daftar pencarian orang (DPO) sampai sekarang masih melenggang bebas, dan oleh karenanya, ia mendesak, polisi segera menangkap Adezta. [Baca Juga: Sebagian Aktivis Antikorupsi Madura menjadi Pelaku Korupsi]

Untuk diketahui, pertengahan 2017 beredar video Abdussalam mengelus bagian vital Adezta Mellany. Aksi yang tidak patut dipertontonkan itu dilakukan di ruang tunggu Kantor DPMPTSP Pamekasan. Beberapa pekan kemudian, Abdussalam ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Sementara Adezta kabur dan ditetapkan sebagai buronan. (WM-1)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.