Fatwa MUI tentang Larangan Meminta-Minta Diprotes Orang Madura


WARTAMADURA.COM – Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang larangan meminta-minta uang untuk pembangunan masjid di jalan raya, karena mengganggu kelancaran arus lalu lintas diprotes oleh sebagian orang Madura melalui jejaring sosial facebook.

Warga Madura yang menolak fatwa yang dikeluarga oleh ulama ini, karena beberapa alasan. Salah satunya seperti yang disampaikan pemilik akun facebook Agus Salam. Ia menilai, fatwa itu tidak tepat, karena penarikan amal itu tidak bersifat memaksa.

Facebooker Abdul Kholiq berpendapat lain. Ia menyatakan, yang diharapkan MUI seharusnya bukan hanya meminta-meminta di jalan raya, akan tetapi institusi itu juga perlu mengeluarkan fatwa haram bagi koruptor.

Sementara, pemilik akun facebook Fathor Rozy Nawawi berpendapat lain. Ia meminta, MUI tidak hanya mengeluarkan fatwa saja, akan tetapi bisa memberikan solusi atas persoalan yang terjadi di Madura, sehingga menyebabkan banyak warga meminta-minta di jalan raya untuk sumbangan pembangunan masjid.

Lain lagi dengan komentar Ari Gooners Akinfeev. Pemilik akun dengan gambar profil baju khas Madura dengan celirit di pinggangnya itu jutru menilai miring fatwa MUI yang mengharamkan meminta-meminta sumbangan masjid di jalan raya dengan pemerintahan saat ini. Fatwa MUI dikaitkan dengan Ketua MUI KH Ma’ruf Amin yang kini menjadi calon wakil Presiden 2019.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram meminta-minta di jalan raya, seperti yang banyak dilakukan warga yang mengatas namakan panitia pembangunan masjid di sepanjang jalan raya di Pulau Madura.

“MUI tegas mengharamkan penarikan amal di jalan yang dilakukan dengan mempersempit jalan,” kata MUI asal Kabupaten Sampang KH Bukhori Maksum seperti dilansir kompas.com pada Kamis (19/9/2013), lima tahun lalu.

Tidak kurang 10 titik penarikan sumbangan terlihat di jalan Kabupaten Sampang – Bangkalan. Penarikan amal dilakukan dengan menempatkan batu cor atau drum berisi cor di tengah marka jalan. Hal itu mempersempit jalan yang akan dilewati pengendara. Selain menempatkan batu cor di jalan, petugas penarik amal berdiri berjejer di kanan dan kiri jalan serta di tengah-tengah marka jalan. Kendaraan yang melintas sangat terganggu dengan hal itu.

Menurut Bukhori, penarikan amal di jalan tidak haram jika hanya memasang papan nama dan memungut amal di pinggir jalan. Kendati kegiatan itu sebenarnya merendahkan martabat agama, namun masih ditoleransi demi pembangunan sarana tempat ibadah.

Penarikan amal di Jalan Raya yang marak dilalukukan warga di Bangkalan itu memang sangat mengganggu pengendara jalan. Sebagian mereka bahkan terkesan memaksa.

Menurut Syaiful Bahri, sopir asal Pamekasan yang mengaku sangat terganggu dengan penarikan amal di jalan raya. Seharusnya, polisi menertibkan mereka dengan melarang memasang pembatas jalan menggunakan batu cor karena itu membahayakan.

“Polisi harus tegas melarang pemasangan batas jalan di tengah marka. Karena hal itu membahayakan dan bisa membuat kendaraan rusak karena bisa tersenggol pembatas itu,” ungkapnya.

Diantara para penarik sumbangan itu ada sudah bertahun-tahun, bahkan akhir-akhir ini banyak lokasi penarikan yang baru. Masjid yang dibangun banyak yang tidak tampak dari pinggir jalan. (Wm)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.