Narkoba dan Praktik Prostitusi Kian Marak di Madura


Petugas Satpol-PP Sampang saat melakukan penutupan paksa sebuah warung yang diduga menjadi tempat prostitusi di Sampang, Madura.

WARTAMADURA.COM – Meski masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat yang agamis dan 99 persen beragama Islam, akan tetapi, perbuatan melanggar syariat Islam di Pulau Garam ini kian marak.

Peredaran obat terlarang narkoba marak di bumi Madura, bahkan petugas pernah berhasil menyita barang bukti narkoba jenis sabu-sabu hampir 8 kilogram. Demikian juga praktik prostitusi.

Sejumlah media lokal di Madura memberitakan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) menyegel sebuah warung kopi yang disinyalir dijadikan tempat prostitusi di Jalan Raya Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, Kamis (27/9/2018) sore dalam sebuah razia. [Baca Juga: Wanita Panggilan Indonesia Menjajakan Diri Melalui Twitter]

Razia itu dilakukan petugas gabungan dari Satpol PP, TNI, Polri, dan Camat. Sayangnya, dalam razia tersebut hanya menyegel satu warung remang-remang disisi timur.

Sedangkan, lokalisasi yang kerap dijadikan prostitusi luput dari operasi. Padahal, keberadaannya tak jauh sekitar 50 meter dari tempat penyegelan.

“Penyegelan ini atas aduan masyarakat dan ulama terhadap kegiatan warung remang-remang yang mengarah ke prostitusi, meski tidak tertangkap tangan, tapi warung ini ditemui ada seorang perempuan,” ujar Kabid Penegakan Perda dan Ketertiban Umum Satpol PP Sampang Choirijah, Kamis (27/9/2018).

Satpol PP Sampang menyegel sebuah warung di Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Kamis (27/9/2018) pukul 17.30 WIB. [Baca Juga: @LionLia, Wanita Madura Bertarif Mahal di Prostitusi Online]

Kata Choirijah, pihaknya tetap akan melakukan penertiban terhadap dugaan keberadaan prostitusi yang berada di sisi barat Desa Taddan. Sebab, dalam penertiban masih melihat lokasi karena tepat berada di reklamasi yang menjadi kewenangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

“Saya masih koordinasi sama provinsi nanti, karena lokasi penyegelan tepat pada reklamasi, setelah ada MoU baru bisa melangkah penertiban itu,” katanya.

“Untuk pemiliknya tidak diamankan karena belum cukup bukti, apalagi saat razia tidak ada transaksi, warung keadaan tutup,” imbuhnya.

Saat penyegelan warung kopi yang berdiri diatas tanah pemerintahan desa tersebut mendapat penolakan dari pemiliknya. Pasalnya, warung berukuran 4×6 meter itu menjadi tempat mata pencarian keluarga.

“Saya merasa keberatan mas, ini untuk mata pencarian sehari-hari, seharusnya pemerintah jangan sewenang-wenang harus melihat kondisi dulu, yang jualan disini itu istri nomor satu saya,” terang H. Tholib (54) pemilik warung yang disegel. [Baca Juga: Siswa di Madura Rekam Adegan Ranjang dengan Kekasihnya]

Diakui H Tholib, warung yang berdiri sudah 5 tahun itu terkadang ada perempuan luar Sampang mampir ke warung miliknya. Tapi, bukan atas kehendak dirinya menampung wanita biduan seperti yang dicurigai selama ini.

“Sempat tanya ke istri kalau ada wanita asal Jember mampir ke warung, tapi sekedar beli kopi, kadang sekedar singgah kesini dan kalau malam pasti keluar kayak pertemuan dengan orang laki-laki, itu tanpa saya tahu, terus mau gimana lagi gak mungkin diusir kan,” ungkapnya dengan logat Madura. (WM)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.