MUI Haramkan Meminta-Meminta di Jalan Raya Seperti di Jalan Raya di Madura Ini


Salah satu lokasi penarikan sumbangan pembangunan masjid di jalan raya di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

WARTAMADURA.COM – Majelis Ulama Indonesia (MUI) beberapa tahun lalu sebenarnya telah mengeluarkan fatwa haram meminta-minta di jalan raya, seperti yang banyak dilakukan warga yang mengatas namakan panitia pembangunan masjid di sepanjang jalan raya di Pulau Madura.

“MUI tegas mengharamkan penarikan amal di jalan yang dilakukan dengan mempersempit jalan,” kata MUI asal Kabupaten Sampang KH Bukhori Maksum seperti dilansir kompas.com pada Kamis (19/9/2013), lima tahun lalu.

Tapi fatwa ulama ini tidak diindahkan, bahkan praktik meminta-meminta uang recehan di jalan raya kian marak, terutama mulai dari Jalan Raya Blega, hingga di Kota Bangkalan.

Tidak kurang 10 titik penarikan sumbangan terlihat di jalan Kabupaten Sampang – Bangkalan. Penarikan amal dilakukan dengan menempatkan batu cor atau drum berisi cor di tengah marka jalan. Hal itu mempersempit jalan yang akan dilewati pengendara. Selain menempatkan batu cor di jalan, petugas penarik amal berdiri berjejer di kanan dan kiri jalan serta di tengah-tengah marka jalan. Kendaraan yang melintas sangat terganggu dengan hal itu.

Menurut Bukhori, penarikan amal di jalan tidak haram jika hanya memasang papan nama dan memungut amal di pinggir jalan. Kendati kegiatan itu sebenarnya merendahkan martabat agama, namun masih ditoleransi demi pembangunan sarana tempat ibadah.

Panitia pembangunan masjid bisa tidak meminta sumbangan kepada masyarakat sekitar, ataupun kepada masyarakat setempat yang sudah merantau ke luar daerah. Tetapi mereka kebanyakan menempuh cara-cara instan, yakni meminta di jalan.

Penarikan amal di Jalan Raya yang marak dilalukukan warga di Bangkalan itu memang sangat mengganggu pengendara jalan. Sebagian mereka bahkan terkesan memaksa.

Menurut Syaiful Bahri, sopir asal Pamekasan yang mengaku sangat terganggu dengan penarikan amal di jalan raya. Seharusnya, polisi menertibkan mereka dengan melarang memasang pembatas jalan menggunakan batu cor karena itu membahayakan.

“Polisi harus tegas melarang pemasangan batas jalan di tengah marka. Karena hal itu membahayakan dan bisa membuat kendaraan rusak karena bisa tersenggol pembatas itu,” ungkapnya.

Diantara para penarik sumbangan itu ada sudah bertahun-tahun, bahkan akhir-akhir ini banyak lokasi penarikan yang baru. Masjid yang dibangun banyak yang tidak tampak dari pinggir jalan. (Wm)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.