Rektor IAIN Madura Terancam Dua Kasus Dugaan Korupsi


Aktivis FPM IAIN Madura saat melaporkan dugaan korupsi kasus pembangunan laboratorium Ibadah 2017 ke Kejaksaan Negeri Pamekasan.

WARTAMADURA.COM – Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura Moh Qosin terancam dua kasus dugaan korupsi yang dipersoalkan oleh mahasiswa sendiri, yakni kasus dugaan pungutan liar (pungli) program Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) dan kasus dugaan korupsi Rehap Gedung Labotorium Ibadah tahun 2017.

Kasus dugaan korupsi pungli program PBAK dipersoalkan oleh kelompok mahasiswa baru yang mengatas namakan diri Gerakan Mahasiswa Pasca Reformasi (GEMPAR), sedangkan dugaan korupsi Rehap Gedung Labotorium Ibadah tahun 2017 oleh mahasiswa yang mengatas namakan diri Front Pembela Mahasiswa (FPM) IAIN Madura.

Gempar melakukan aksi pada 30 Agustus 2018 dan menuntut agar pihak rektorat mengembalikan uang mahasiswa yang dipungut dengan dalih uang buku panduan dan kaos, sedangkan FPM pada 17 April 2018.

FPI kala itu bahkan datang secara langsung ke kantor Kejari Pamekasan di Jalan Raya Panglegur dengan membawa bukti dokumen yang diduga terjadi penyimpangan.

Ketua Front Pembela Mahasiswa (FPM) Adi mengatakan, laporan atas dugaan tindak pidana korupsi itu terhadap Rehap Gedung Labotorium Ibadah tahun 2017 dengan menggunakan pagu anggaran kurang lebih 400 juta terindikasi abal-abal dan tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang ada.

“Kami laporkan rehab pembangunan gedung tersebut, karena pekerjaannya tidak sesuai spesifikasi teknik yang telah ditetapkan, atau RAB,” katanya, menjelaskan.

Ia lebih lanjut mengatakan, dalam temuan rehab Gedung Labotorium IAIN Madura itu, tidak mengunakan tiang beton besi dan tidak menggunakan penggalian tanah sebagai penyanggah.

“Faktanya ketika di cek tidak menggunakan beton dan penggalian tanah sebagai mana di RAB,” katanya.

Temua lainnya, besi yang digunakan sebagai penyanggah terindikasi besi lama. Hal itu dibuktikan dari bentuk dan kondisi besi yang digunakan.

“Besi yang digunakan terindikasi besi bekas dan tidak adanya papan nama,” katanya, menambahkan.

Oleh karenanya, sambung dia, pihaknya datang secara langsung ke Kantor Kejari Pamekasan pada 17 April 2018 lalu guna melaporkan kasus itu ke aparat penegak hukum.

Adi dan mahasiswa lainnya yang tergabung dalam kelompok mahasiswa yang mengatas namakan diri Front Pembela Mahasiswa IAIN Madura tidak ingin, kampus Islam itu menjadi ajang korupsi oknum yang tidak bertanggung jawab, sehingga ia meminta agar tim penyidik Kejari Pamekasan segera menangani kasus dugaan korupsi di Kampus Islam Negeri di Pamekasan tersebut. (Wm-1)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.