Sebagian Aktivis Antikorupsi Madura Jadi Pelaku Korupsi


Dokumen tribunnews.com, terkait kasus dugaan korupsi raskin yang melibatkan LSM aktivis antikorupsi di Madura.

WARTAMADURA.COM – Sebagian aktivis antikorupsi di Madura, ternyata malah menjadi pelaku korupsi, bukan mencegah terjadinya tindak pidana korupsi. Salah satunya seperti yang terjadi di Kabupaten Pamekasan belum lama ini.

Salah satunya seperti dibetikan situs tribunnews.com pada 12 Maret 2014. Berita berjudul “Oknum LSM dan Satker Bulog Tersangka Penyimpangan 5 Ton Raskin” itu menjelaskan, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang justru menjadi pelaku korupsi, sehingga harus berurusan dengan polisi itu bernama Khairul Kalam.

Khairul Kalam, demikian, dalam berita itu, merupakan satu dari empat tersangka lain yang juga ditangkap polisi. Ironisnya, yang dikorupsi aktivis antikorupsi itu adalah bantuan untuk rakyat miskin yang seharusnya dikawal dan dilindungi.

Dalam berita yang bersumber dari konfirmasi Humas Polres Pamekasan itu dijelaskan, setelah dilakukan pemeriksaan, Polres Pamekasan menetapkan dua tersangka pelaku penyimpangan beras untuk rakyat miskin (raskin) seberat 5.040 dari Bulog yang digerebek di sebuah gudang, untuk diganti bungkusnya di Desa Bulangan Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan.

Kedua tersangka ini, Khairul Kalam (30), oknum LSM Badan Intelijen Anti Korupsi (BIAN), warga Desa Lebek, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan dan Musa (35), bagian Satuan Kerja (Satker) Bulog Pamekasan, warga Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.

Sedangkan sopir truk Colt Diesel M 9430 C, Suparto (42), warga Desa Panglegur, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, dipulangkan dan dijadikan saksi.

Sementara barang bukti raskin, sebagian masih terbungkus sak Bulog masing-masing ukuran 15 kg dan raskin yang sudah diganti bungkus sak tanpa tulisan masing-masing ukuran 20 kg, disita di gudang Polres Pamekasan.

Kasubag Humas Polres Pamekasan, AKP Maryatun, Rabu (12/3/2014) mengatakan, ditetapkannya Khairul Kalam, sebagai tersangka karena Khairul Kalam yang menyediakan gudang tempat penurunan beras sekaligus untuk penggantian sak Bulog ke sak polos.

Gudang ini, Khairul Kalam menyewa ke orang lain, kemudian juga termasuk mencari 7 kuli untuk menurunkan berasnya dan mengganti sak Bulog. “Nah, untuk Musa ini, kami jadikan tersangka juga karena sebagai Bulog yang mengawal beras, seharusnya sampai ke tempat tujuan, yakni ke Balai Desa Bulangan Timur, Kecamatan Pegantenan, ternyata membiarkan raskin itu diturunkan ditempat lain,” kata Maryatun.

Dijelaskan, Selasa (11/3/2014) lalu, sekitar pukul 09.30 raskin itu ke luar dari gudang Bulog Pamekasan. Tersangka Musa ikut di dalam truk untuk mengawal agar beras itu sampai ke tujuan.

Namun di tengah perjalanan, Musa mendapat telepon dari seseorang agar melewati Desa Bicorong, Kecamatan Pakong. Menjelang memasuki Desa Bulangan Timur, seorang pemuda yang belangan diketahui bernama Hadi, mengendarai sepeda motor menghentikan laju truk.

Selanjutnya Hadi meminta truk itu mengikuti arah dirinya menuju gudang yang disewa Khairul Kalam. Dan ketika truk itu berhenti, Musa menanyakan di mana Kades Bulangan Timur, Hosnol Hotimah kenapa tidak kelihatan, karena butuh tanda tangan Kades Hosnol Hotimah untuk surat keterangan angkut (SKA), jika raskin itu sudah diterima.

Lalu Khairul Kalam menyuruh Nuki alias Mat Tuki mendatangi Kades Hosnol Hotimah, yang saat itu rapat di Kecamatan Pegantenan untuk minta tanda tangan. Berselang tidak berapa lama, Mat Tuki sudah mendapatkan tanda tangan Kades Hosnol Hotimah, tapi tanpa stempel Desa Bulangan Timur.

Sore harinya, Kades Hosnol Hotimah menghubungi pihak Bulog menanyakan kenapa beras milik desanya belum datang. Padahal, ia sudah menandatangani SKA dari Mat Luki, pemuda yang sudah lama dikenalnya.

Beberapa jam kemudian, aparat Polres Pamekasan menerima informasi dari masyarakat, jika di gudang itu tersangka Khairul Kalam dan beberapa warga menurunkan raskin Bulog yang bungkusnya diganti sak polos.

“Siapa otak di balik penyelewengan raskin ini, belum bisa kami jelaskan, karena sampai sekarang pemeriksaan belum selesai. Dan kedua tersangka ini dijerat pasal korupsi dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara,” kata Siti Maryatun.

Seperti diberitakan, aparat Polres Pamekasan mengamankan sebuah truk jenis Colt Diesel M 9430 C, bermuatan beras untuk rakyat miskin (raskin) sebanyak 5.040 kg, yang diturunkan di sebuah gudang dan bungkus sak tulisan Bulog diganti dengan sak polos.

Sopir truk Parto, saat ditanya mengaku hanya mengantar beras ini ke Desa Bulangan Timur dan tidak mengerti tujuannya kepada siapa, apakah ke balai desa atau gudang, karena di dalam truk sudah ada petugas Bulog yang mengawal.

Kepada Surya, tersangka Khairul Kalam mengatakan, raskin itu rencananya akan dijual ke orang lain. Hanya saja tidak dijelaskan, akan dijual kepada siapa dan berapa harga raskin itu per kg.

Kasus korupsi oleh aktivis antikorupsi sebagaimana dilakukan Khairul Kalam dan kroninya serta kejadian korupsi lainnya itu, bukan hanya diberitakan satu media, akan tetapi bahkan menjadi framing hampir semua media. Media arus utara, seperti, kompas.com, Jawa Pos, republika.co.id, termasuk sejumlah media lokal di Madura, seperti Koran Madura, Radar Madura dan Kabar Madura, menjadi kasus ini sebagai framing di medianya.

Ini dilakukan karena ternyata, kasus raskin di Pamekasan yang menarik minat oknum masyarakat termasuk sebagian antivis antikorupsi itu, diperkirakan merugikan negara dalam jumlah yang tidak sedikit.

Koranmadura.com pada 30 Oktober 2013 memberitakan, bahwa Kasus penyimpangan bantuan raskin di Pamekasan tergolong parah. Hasil penelitian sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) menyebutkan dugaan korupsi raskin yang terjadi di wilayah itu sekitar Rp 58,8 miliar per tahun. Perhitungan jumlah kerugian negara ini, dengan asumsi pembagian raskin dilakukan sebanyak enam bulan dalam setahun.

Asumsi enam bulan tersebut merupakan asumsi terendah sebab faktanya di beberapa desa di Pamekasan ada yang hanya didistribusikan selama 3 kali dalam dua tahun, seperti yang terjadi di Desa Larangan Slampar, Kecamatan Tlanakan.

Sedangkan, jumlah rumah tangga sasaran penerima manfaat sebanyak 109.017 RTS atau setara dengan 1.635.255 kilogram per bulan. Jumlah ini setara Rp. 9. 811. 530. 000 per bulan dengan harga tebus Rp. 6. 000 per kilogram. Alokasi dana yang harus dikeluarkan pemerintah untuk bantuan raskin kepada masyarakat Pamekasan sebanyak Rp 127,5 miliar, termasuk bantuan raskin ke-13 setiap tahunnya. (Dirangkum dari berbagai media)

Baca Juga Artikel Lainnya:

Baca Juga Artikel Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.