Mengendus Aroma Korupsi Proyek Stadion Pamekasan


Memiliki stadion sepak bola, menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat penikmat jenis olahraga sepak bola. Sebab, keberadaan stadion sepak bola menunjukkan bahwa eksistensi jenis olahraga ini, memang ada.

Adalah Kabupaten Bangkalan yang merupakan kabupaten pertama kali di Madura yang memiliki stadion berkelas nasional, dengan fasilitas memenuhi standar sebagai stadion yang layak ditempati kompetisi resmi sepak bola nasional, seperti liga 1 dan liga 2.

Selain Bangkalan, kabupaten lainnya adalah Sumenep, yakni Stadion Ahmad Yani Sumenep, dan stadion ini juga pernah menjadi kandang klub sepak bola asal Kabupaten Pamekasan, Persepam Madura United (dulu) kini diubah menjadi Persepam Madura Utama.

Pamekasan baru memiliki stadion secara resmi pada 18 November 2016, yang terletak di Desa Ceguk, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.

Stadion yang pertama kali diberi nama “Pemellengan” dan kini diubah menjadi “Stadion Gelora Ratu Pemelingan” ini menjadi kandang dua klub sepak bola, yakni Madura United FC dan Persepam Madura Utama.

Madura United merupakan klub sepak bola liga 1, sedangkan Persepam Madura Utama di liga 2, dan sebelum menjadi klub profesional, klub sepak bola berjuluk “Laskar Sape Ngamok” ini merupakan klub perserikatan milik Pemkab Pamekasan.

Dinas Pemuda dan Olahraga Pemkab Pamekasan merilis, stadion yang diresmikan pada 18 November 2016 dan pertama kali digunakan dalam laga lanjutan Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016 antara Madura United FC melawan Persija Jakarta itu, memiliki kapasitas tampung penontong hingga 35.000 orang. Sebuah stadion yang tergolong besar untuk ukuran Madura.

Dalam keterangan persnya kepada media beberapa hari sebelum peresmian, Kepala Dispora Ir Mohammad menjelaskan, jumlah kapasitas tampung stadion Pamekasan yang mencapai 35.000 orang itu, berdasarkan data dari konsultan pembangunan.

Senang dan bangga memiliki stadion dengan kapasitas tampung penonton yang tidak sedikit, dan terlihat sangat megah, dirasakan oleh hampir semua pecinta sepak bola di Pamekasan, termasuk masyarakat umum. Bahkan saat uji coba lampu sorot di stadion itu, ratusan orang terlihat berjubel di depan halam stadion, hanya untuk melihat secara langsung dan ingin masuk ke dalam stadion.

Kapasitas tampung yang mencapai 35.000 orang inilah dan mendorong manajemen klub sepak bola Madura United FC berupaya keras memperjuangkan agar stadion yang diresmikan secara langsung oleh Bupati Pamekasan Achmad Syafii itu, menjadi tuang rumah Piala Presiden 2017.

Slain untuk memperkenalkan kepada publik di Nusantara bahwa Madura telah memiliki stadion megah dengan kapasitas tampung penonton yang tidak sedikit, upaya manajemen menjadikan Stadion Gelora Ratu Pamelingan sebagai tuan rumah Piala Presiden 2017, untuk membantu menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar.

Semua orang, awalnya percaya dengan pernyataan jumlah kapasitas tampung stadion yang mencapai 35.000 orang itu, karena rilis resmi tentang kapasitas tampung itu, disampaikan langsung oleh pejabat publik, yakni pimpinan dinas teknis, dan Bupati Pamekasan Achmad Syafii.

Apalagi, anggaran pembangunan stadion itu, sejak awal memang dianggarkan untuk membangun stadion dengan kapasitas tampung penonton hingga 35.000 orang. Namun, fakta baru kemudian terungkap, setelah panitia pelaksana pertandingan (Panpel) Madura United FC pertama kali menggunkan stadion itu, saat menjamu Persija Jakarta pada 20 November 2016.

Kala itu, panitia hanya mencetak 15.000 tiket, meliputi kelas ekonomi, utama dan VIP. Hasilnya, stadion tidak muat, bahkan banyak penonton yang telah membeli tiket tidak bisa masuk ke dalam stadion, karena sudah sesak.

Dari Pertandingan antara Madura United FC melawan Persija Jakarta inilah, mengendus fakta baru, bahwa kapasitas tampung stadion Pamekasan sebenarnya tidak seperti yang disampaikan Dispora Pemkab Pamekasan kepada publik, yakni mampu menampung 35.000 orang.

“Pembangunan stadion untuk kapasitas tampung penonton 35.000 orang dengan 15.000 orang itu beda biaya lho ya,” kata Ketua Komisi III DPRD Pamekasan Moh Hosnan Achmadi kepada wartawan.

Oleh karenanya, Hosnan menyatakan, DPRD Pamekasan perlu melakukan klarifikasi terkait kapasitas tampung Stadion Gelora Ratu Pamelingan itu yang sebenarnya. Jika kapasitas tampung terjadi penggelembungan, maka dana anggaran pembangunan stadion juga bisa terjadi mark up.

Temuan lain di lapangan yang juga terungkap ialah kualitas pipa besi yang jelek, serta lapangan bercekung, sehingga stadion yang telah menghabiskan uang negara puluhan miliar rupiah itu harus diperbaiki lagi, agar bisa dimanfaatkan kompetisi resmi tahun ini.

Perlu Diusut
Para pegiat lembaga swadaya masyarakat di Kabupaten Pamekasan umumnya mendorong, agar aparat penegak hukum segera turun tangan atas temuan fakta kapasitas tampung stadion Pamekasan itu.

Sebagaimana Komisi III DPRD Pamekasan, para pegiat LSM juga berpendapat, anggaran untuk pembangunan stadion berkapasitas 35.000 orang dengan 15.000 berbeda. “Ini jelas tidak beres, perlu diaudit secara transparan, dan Kejari harus turun tangan,” kata Ketua Forum Kajian Kebijakan Publik dan Transparansi Anggaran dalam diskusi terbatas di area Monumen Arek Lancor Pamekasan belum lama ini.

Keinginan kuat kalangan pegiat lembaga swadaya masyarakat agar aparat penegak hukum turun tangan karena data penggelembungan jumlah tampung penonton tidak sedikit, sehingga mereka menduga anggaran pembangunan proyek dari uang negara itu, juga tidak sebagaimana mestinya. (Sumber: Penawarta.Com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.