Resep Arema Cronus Taklukkan Madura United


WARTAMADURA.COM – Klub sepak bola Arema Cronus patut berbangga, karena telah menaklukkan Madura United FC pada laga lanjutan Indonesia Soccer Chamiponship (ISC) 2016 yang digelar di Stadion Kanjuruhan, Malang 2 September 2016.

Klub ini mampu mempersempit kesenjangan poin dari Madura United dari sebelumnya 5 poin menjadi 2 poin, setelah berhasil menaklukkan laskar berjuluk “Sape Kerap” asal Pulau Garam Madura itu dengan skor 2-1.

Kemenangan Arema atas Madura United, tentu tidak mengalir begitu saja. Strategi dan taktik lapangan pasti dilakukan. Tim terlatih dengan nama besar yang sudah dikenal, juga menjadi modal bagi klub ini, bisa memperdaya Madura United.

Namun, bukan itu saja. Klub berjuluk “Singo Edan” ini mampu mengungguli Madura United dengan skor 2-1 berkat adanya peran kiper tambahan, yakni Hamka Hamzah yang tak lain merupakan kapten klub Arema Cronus.

Tangan Tuhan versi Hamka Hamzah inilah yang menyebabkan Arema unggul. Ya, dalam sebuah momen Hamka Hamzah memang melakukan penyelamatan dengan menggunakan tangannya untuk mencegah gol yang hendak dicetak Madura United. Bahkan pertandingan sempat dihentikan karena protes dari pemain Madura United.

Kejadian ini terjadi pada menit ke-26, yakni saat Bayu Gatra memiliki kesempatan untuk menyamakan kedudukan usai melewati bek dan kiper Arema. Bayu Gatra tinggal menceploskan bola ke gawang yang kosong sebelum Hamka meluncur mencoba menghalangi gol sebelum tangannya terlihat menyentuh bola. Demikian seperti dilansir situs bola.com, 3 September 2016.

Kejadian inilah yang menimbulan banyak persepsi dari pembaca situs itu. Pada bagian komentas, nitizen justru mempertanyakan indepensi wasit, karena membiarkan Hamka Hamzah melakukan penyelamatan dengan tangannya, layaknya penjaga gawang.

Apalagi, pemain Madura United Bayu Gatra Sanggiawan telah memberitahu wasit terkait tindakan Hamka, tapi tetap dibiarkan oleh wasit Nusul Fadilah yang memimpin pertandingan kala itu.

“Saya sudah memberitaku pada wasit bahwa Hamka Handball. Tapi dia diam saja,” kata Bayu Gatra seusai pertandingan.

“Paraaah !!! wasit dibayar berapa tuh ???,” komentar nitizen Niedhu Elka disitus itu. “Y Pasti itukan wasit yang dulu final Persib vs Arema y pasti mihak pada arema kan kya tahu,” kata nitizen lainnya, dengan akun W’ilson S’urya Nugra’ha Q.

Serangan dan Intimidasi
Trik Aremania untuk memangkan pertandingan, tidak hanya itu saja. Saat Madura United mampu menyamakan kedudukan dari sebelumnya 0-1 menjadi 1-1, tiba supporter Arema, yakni Aremania, mengamuk, melempari supporter Madura United dengan botol dan menyobet bendera supporter Taretan Dhibik.

Supporter Aremania semakin ganas dan berupaya bergerak mendekati tribun supporter Madura United, saat kiper Arema Cronus Kurnia Mega mengalami cidera lutut.

Aksi pelemparan oleh oknum supporter Aremaniapun terjadi, dan mereka berupaya merangsek maju mendekati tribun yang ditempati Taretan Dhibik, bahkan beberapa supporter Aremania berupa naik pagar pembatas guna mendekati Taretan Dhibik, namun berhasil digagalkan petugas.

Aksi kerusuhan di stadion Kanjuruhan itu berlangsung, tanpa sorotan kamera, meski laga pertandingan kedua kesebelasan disiarkan langsung di salah satu stasiun televisi nasional.

Tidak hanya itu saja, supporter Aremania juga menguntit Taretan Dhibik, saat rombongan dari Pamekasan itu, hendak pulang setelah laga pertandingan usai.

Sesampainya di Lawang, Malang, para supporter Aremania melempari bus dan mobil yang dikendarai supporter Madura United hingga menyebabkan kaca pecah, termasuk mobil manajemen Madura United yang saat itu membawa pelatih Mario Gomes De Oliviera.

Salah satu mobil manajemen Madura United yang dirusak supporter Aremania.
Salah satu mobil manajemen Madura United yang dirusak supporter Aremania.

Padahal supporter Taretan Dhibik ini datang ke Malang, guna mendukung tim kebanggaannya itu, setelah berkoordinasi dengan kalangan pengurus supporter Aremania. Bahkan tim kedua pendukung klub sepak bola yang sama-sama masuk dalam tiga besar ISC 2016 putaran pertama itu, sempat melakukan konvoi bersama keliling kota, sebelum laga tanding dimulai.

“Kami datang ke Malang memang dengan missi perdamaian. Andaikan saat itu kami tidak diizinkan datang ke Malang mendukung tim kebanggaan kami, tentu kami tidak memaksa,” terang Bambang kepada wartawan di Madura.

Kejadian inilah yang menyebabkan Taretan Dhibik dan para supporter Madura United lainnya di empat kabupaten di Pulau Madura, sempat berpandangan, bahwa aksi yang dilakukan Aremania itu, untuk menguatkan kembali dukungan supporter pada klub berjuluk “Singo Edan” tersebut yang kini mulai berkurang, sehingga mengorbankan supporter Madura United.

MU Terima Perlakuan Arema
Meski diperlakukan tidak semestinya, namun manajemen klub berjulukan Laskar Sape Kerrab itu tidak akan melayangkan protes ke operator turnamen, PT Gelora Trisula Semesta. Sebab, mereka menganggap tidak ada gunanya mengirim protes resmi lantaran tidak akan mengubah hasil pertandingan.

Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, memang menyayangkan aksi Hamka Hamzah yang jadi buah bibir di kalangan fans kedua klub, namun mereka memilih untuk tetap menerima kendati merasa dirugikan.

“Kami nikmati kekalahan ini dengan lapang dada. Selamat untuk Hamka Hamzah yang mendadak boleh jadi kiper. Apapun yang terjadi di lapangan, kami harus tetap berdiri tegak, karena kami kalah dengan terhormat,” ujar Achsanul Qosasi, seperti dilansir situs ongisnade.co.id, 2 September 2016.

Achsanul Qosasi pemilik Madura United FC
Achsanul Qosasi pemilik Madura United FC

Achsanul juga memuji Fabiano Beltrame dan kawan-kawan yang tidak melancarkan protes berlebihan dan tidak mogok main. “Wasit adalah manusia, walaupun semua tahu bahwa pemain itu juga manusia,” sindir Achsanul pada wasit yang memimpin pertandingan ini.

Pria yang juga politisi itu melontarkan kalimat pedas soal kemenangan 2-1 Arema Cronus atas timnya. “Saya yakin Arema tidak mau menang dengan cara seperti ini. Semoga Hamka tidak bangga dengan kehebatannya,” sentil Achsanul lagi.

Hamka Hamzah, “kiper ketiga” setelah Kurnia Meiga Hermansyah dan I Made Wardana ini, baru mengakui bahwa ia handball di kota terlarang, setelah pertandingan usai melalui akun twitter miliknya.

“Saya meminta maaf dengan kejadian bola mengenai tangan saya. Saya tidak sengaja, karena saya meluncur dengan deras dan ingin membuang bola dengan kepala tetapi bola mengenai tangan saya,” tulis Hamka dalam akun Twitter pribadinya.

Menurutnya, Hamka sudah berbicara dengan wasit dan juga pemain Madura kalau bola mengenai tangannya, dan seharusnya Arema mendapatkan penalti, tetapi tak ada respon. “Tetapi di sini saya pribadi meminta maaf,”.

Benar atau tidak pengakuan Hamka ini, namun jelas, berkat resep tiga kiper dan dibantu wasit itulah, maka Arema Cronus mampu mengantongi poin penuh, dan menaklukkan Madura United dengan skor 2-1. Dua gol kemenangan Arema dicetak oleh Ahmad Alfarizi dan Cristian Gonzales, sementara satu gol balasan Madura United dicetak Rodrigues Aracil Pablo.

Gol yang hendak dicetak Bayu Gatra kandas oleh kiper ketiga Arema, yakni Hamka Hamzah dan dibiarkan oleh wasit Nusul Fadilah asal Bekasi, Jawa Barat itu. (WM-1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.