Kiai-Kiai Cabul Dalam Sorotan Media


Dulu, kiai adalah sosok panutan umat, menjadi teladan bagi masyarakat, dan orang yang dipandang paham agama. Bagi sebagian masyarakat, sosok kiai adalah sosok yang perlu dihormati, dan terkadang melebihi penghormatan kepada kedua orang tuanya.

Tapi itu dulu. Saat ini, justru banyak kiai yang terjerat kasus pelecehan seksual, seperti diberitakan tribunnews.com pada 5 Mei 2015.

Kiai Tersangka Kasus Pencabulan Santrinya di Pasuruan, Jawa Timur.

“Cabuli Santrinya Selama 8 Tahun, Kiai di Pasuruan Dituntut 15 Tahun Penjara”. Demikian judul berita dalam situs media online itu.

Kiai yang mencabuli santrinya selama 8 tahun itu ternyata bernama KH Abdul Wahid. Ia terancam hidup cukup lama di penjara. Dia dituntut hukuman 15 tahun penjara oleh jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (5/5/2015).

JPU Kabupaten Pasuruan menuntut terdakwa ini, tidak hanya menghadapi ancaman hukuman 15 tahun. Terdakwa yang bisa dipanggil Gus Wahid juga diancaman denda Rp 60 juta, subsider 4 empat bulan penjara karena dinilai telah melanggar Pasal 81 Ayat 2 UU RI No 23/2002 Junto Pasal 65 KUHP.

Kiai Haji Abdul Wahid Pasuruan ini, ternyata bukan satu-satunya kiai cabul. Situs beritajatim.com pada 19 September 2014 memberitakan, seorang kiai berinisial MIK, pengasuh sebuah pondok pesantren di Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur, juga harus berurusan dengan polisi, karena mencabuli beberapa santriwati saat memimpin istigosah. Kok bisa?

Ilustrasi Pencabulan oleh BeritaJatim.Com

Berdasarkan informasi yang diperoleh beritajatim.com, istigosah atau doa bersama itu digelar setiap malam setidaknya selama satu jam atau lebih.

Istigosah dalam ruangan pondok ini agak ganjil, karena lampu dipadamkan. MIK sendiri memimpin istigosah itu dalam sebuah ruangan khusus seorang diri.

Santriwati yang diminati MIK diajak masuk ke ruangan itu dengan alasan membantu membaca wirid. Saat di dalam ruangan itulah, MIK memaksa santriwati melayani nafsu berahinya.

Suara santriwati yang memberontak tak terdengar, tenggelam suara santri yang membaca doa dan wirid bersama-sama. Perbuatan ini selalu berulang dengan korban berbeda-beda selama setahun. MIK kemudian dilaporkan tiga santriwati ke polisi. Ia kini mendekam di sel kepolisian.

MIK dijerat dengan pasal 81 Undang-undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. “Ancaman hukumannya 15 tahun penjara,” kata Kepala Sub Bagian Humas Polres Jember, Ajun Komisaris Edi Sudarto, Kamis (18/9/2014), seperti dilansir situs itu.

Kasus pencabulan oleh kiai juga terjadi di Blitar, Jawa Timur, seperti diberitakan SCTV di link Youtobe berikut ini:

Di Bondowoso, seorang guru agama tega mencabuli sembilan santriwatinya, kasus ini terbongkar setelah keluarga korban melapor ke polisi. Ironis, pencabulan ini terjadi di lingkungan Pesantren.

Kasus kiai-kiai cabul seperti diberitakan berbagai media ini, setidaknya membuka mata bagi kita, bahwa siapapun bisa berbuat salah, dan siapapun tidak seharusnya disuperioritaskan.

Konsep agama sudah jelas, perhatikan apa yang dikatakan jangan, memperhatikan siapa yang mengatakan. Kalaupun itu kiai tapi mengajak mesum dan cabul, jangan diikuti lho…. (*)

Iklan

Satu pemikiran pada “Kiai-Kiai Cabul Dalam Sorotan Media

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.