Ridho Rhoma, Irwan dan Fatwa Ulama


Irwan Ulama“MUI Pamekasan Larang Konser Ridho Rhoma”. Demikian judul berita di laman website republika.co.id Sabtu, 12 Desember 2009 yang diterbitkan pada 17:15 WIB.

Pembatalan secara mendadak konser putra Raja Dangdut Rhoma Irama ini, membuat penggemarnya kecewa.

Ketua panitia pelaksana konser Ridho Rhoma, Imam Maskun, dalam keterangan persnya mengaku, kecewa dengan pembatalan konser Ridho Rhoma tersebut, apalagi dilakukan secara mendadak.

“Kami justru mengetahui pembatalan ini tadi sekitar pukul 08:00 WIB, itupun dari Polda Jatim, bukan dari Pemkab Pamekasan,” kata Imam Maskun mengungkapkan.

Setelah panitia mencari konfirmasi ke Pemkab Pamekasan, sambung Imam Maskun, ternyata pembatalan itu memang benar-benar ada. “Namun suratnya, tidak segera disampaikan ke pihak panitia dengan alasan lupa,” kata Imam.

Alasan lain yang disampaikan Pemkab Pamekasan terkait pembatalan mendadak koser Ridho Rhoma itu atas fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan, yang menganggap bahwa konser Ridho Rhoma itu bisa mendatangkan maksiat di Pamekasan.

“Yang saya pertanyakan segi maksiatnya dimana. Padahal, sejak ayahnya, Rhoma Irama dengan Ridho yang sekarang ini misinya adalah dakwah. Sehingga konser yang kami gelar di Pamekasan ini juga bertema `nada dan dakwah`,” ucapnya.

Akibat pembatalan secara mendadak tersebut, pihak panitia mengalami kerugian mencapai Rp500 juta untuk biaya artis, akomudasi dan transporatasi.

Ia menyatakan, akan menuntut ganti rugi kepada Bupati Pamekasan atas kebijakannya membatalkan secara mendadak koser Ridho Rhoma tersebut.

Pemkab Pamekasan membenarkan bahwa pembatalan koser Ridho Rhoma berdasarkan pertimbangan dari MUI Pamekasan. Namun, menurut Bupati Pamekasan Kholilurrahman, itu bukan alasan satu-satunya.

“Ada alasan lain mengapa kami membatalkan konser tersebut,” kata Kholilurahman. Ia menjelaskan, alasan lain adalah acara yang digelar di lapangan stadion itu lebih mendekati kegiatan bisnis murni, bukan nada dan dakwah.

Kendatipun telah menyampaikan penjelasan tentang alasannya menolak memberikan izin hiburan pada konser Ridho Rhoma, Bupati Kholilurrahman, terus menuai protes dari warga Madura, melalui pesan singkat yang disampaikan di sejumlah stadion radio di Madura yang sebelumnya mempromosikan rencana konser Ridho Rhoma di kota yang mencanangkan Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam) tersebut.

“Ada sekitar 1.000 pesan singkat lebih yang masuk ke kami, memprotes pembatalan konser Ridho Rhoma ini,” kata Fauzi Ahmad, salah seorang karyawan radio Karima FM di Pamekasan kala itu.

Salah satu pesan yang disampaikan, karena konser yang menampilkan erotisme, selama ini di wilayah kecamatan justru diperbolehkan. Sedang konser Ridho Rhoma yang selama ini memang dikenal Islami justru dilarang.

“Kenapa Ridho Rhoma yang justru dilarang. Kenapa konser dangdut lokalan yang mempertontonkan goyangan erotis yang ada di desa-desa justru dibiarkan. Terlalu!,” kata Fauzi menirukan pesan singkat yang disampaikan pendengar itu.

Saat Irwan, penyanyi dangdut lulusan Dangdut Akademia (DA) 2 Indosiar hendak konser di Pamekasan, ulama Pamekasan lagi-lagi melayangkan protes menolak konser dengan alasan yang sama.

Protes konser penyanyi dangdut asal Sumenep Irwan itu, disampaikan oleh Sekretaris Aliansi Ulama Madura (AUMA) KH Fudholi M Ruham. Alasannya, sama seperti yang pernah disampaikan MUI, saat mendesak Bupati Kholilurrahman membubarkan konser Ridho Rhoma kala itu, yakni dikhawatirkan menimbulkan maksiat.

“Jika konser Irwan tetap digelar, tentu menciderai Pamekasan. Sebab Pamekasan adalah Kota Gerbang Salam. Kami minta semua pihak bertindak tegas,” kata KH Fudholi M Ruham seperti dilansir situs radarmadura.co.id, pada 20 April 2016.

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fudhola itu menyatakan, mumpung masih ada waktu tiga hari, diupayakan konser Irwan dibatalkan.

“Kalaupun tidak bisa dibatalkan, tolong diatur sebaik mungkin. Saat konser berlangsung, pastikan jangan sampai ada biduan. Penonton laki-laki dan perempuan harus dipisah,” sarannya.

Auma akan mengirim surat kepada pihak Irwan agar tidak menghelat konser di Pamekasan. Surat itu bahkan akan ditembuskan kepada bupati, Kapolres, dan Dandim 0826/Pamekasan.

Saat menyampaikan keterangan persnya kepada media, suara KH Fudholi M Ruham, nampak lantang dan tegas. Maklum, kelompok KH Fudholi pernah sukses menggagalkan konser Ridho Rhoma di Lapangan Stadion Pamekasan.

Tidak hanya Auma, Forum Kiai Muda (FKM) Pamekasan juga menolak konser Irwan dengan alasan yang sama.

Hanya saja, suara ulama ini, sudah tidak dihiraukan, sehingga pemkab tetap mengeluarkan izin kegiatan. “Disamping itu, panitia juga menyetujui akan memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam ketentuan. Antara lain memisah antara penonton laki-laki dan perempuan,” kata Kabag Humas Pemkab Pamekasan Listidjanto Joko Trisulo kepada media.

Pemkab tentu tidak mengindahkan protes ulama, karena tensi Auma berbeda antara konser Ridho Rhoma dengan konser Irwan. Dulu nada “haram” sangat keras, tapi pada konser Irwan kata haram tidak terlalu nyaring dan tidak didukung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan.

“Mungkin konser haram yang dulu dengan yang sekarang berbeda. Makanya keras diawal, lalu lambat laun lemas,” kata sejumlah netizen Pamekasan di sejumlah media jejaring sosial. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.