Busro Karim; Dari Jamilah ke Nurfitriana


Bupati-fitri-kemerdekaanSUMENEP (WARTAMADURA) – Tanggal 25 Oktober 2010 merupakan hari bersejarah bagi Busro Karim-Sungkono Sidiq, karena duwet pasangn Bupati dan Wakil Bupati Sumenep terpilih dilantik kala itu.

Tepat jam 11.00 WIB, Soekarwo, Gubernur Jawa Timur turut membacakan amanat sumpah kewajiban yang harus dijalankan kedua pemimpin baru Sumenep ini. Selanjutnya, juga dibacakan surat keputusan Gubernur Jawa Timur, tentang habisnya masa kepemimpinan bupati dan wakil bupati periode lalu, Ramdlan Sirad dan Muhammad Dahlan.

Saat dilantik, Busro Karim yang dikenal Ulama Kondang di Kabupaten Sumenep ini didampingi oleh istrinya Hj Wafiqoh Jamilah Busyro Karim atau yang oleh masyarakat Sumenep populer disapai Nyai Mila.

Sebagai bupati pilihan rakyat, sejak pertama menjabat, gerakan Bupati Busro Karim memang terbilang spektakuler. Dua bulan kemudian, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga menggelar kegiatan yang mampu menyedot perhatian publik dan bernilai religius, yakni “Seribu Anak Mencium Kaki Ibu”. Jumlah pastinya 1.250 anak. Demikian seperti dilansir inilah.com, 22 Desember 2010.

Tepat di Hari Ibu, Rabu (22/12/10), 1.250 anak di Sumenep memecahkan rekor MURI dengan mencium kaki ibu bersama-sama.

Dipandu Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sumenep, Hj. Wafiqoh Jamilah Busyro Karim, seluruh anak-anak yang memadati gedung KORPRI serentak bersama-sama mencium kaki ibu. Kemudian sang ibu ganti memeluk anak dengan penuh cinta kasih.

bupati jamilahDalam acara yang digagas Pemkab Sumenep khusus memperingati Hari Ibu ini, mencatat rekor dengan kategori peserta terbanyak. Demikian Deputi Manager MURI, Desi Dwi Anistia Putri. Ia juga menjelaskan ada 4 kriteria untuk bisa masuk dalam MURI. “Salah satunya seperti yang dilakukan anak-anak Sumenep ini, yakni masuk kategori ‘ter’, yakni terbanyak jumlah pesertanya,” kata Desi.

Selain itu untuk acara mencium kaki ibu bersama-sama, ini baru pertama kalinya dilakukan. “Dulu yang pernah hanya sungkem bersama di Tangerang,” ujar Desi.

Karena berhasil mencatatkan diri sebagai peserta terbanyak cium kaki, maka MURI memberikan piagam pada Pemkab Sumenep, Tim penggerak PKK, dan salah satu televisi lokal sebagai penyelenggara kegiatan.

BUPATI BUSROHubungan Busro dengan Nyai Mila, ternyata tidak berlangsung lama. Berawal dari kasus mandi bareng dengan Ayu Azhari di Taman Sare, hingga terungkapnya ke publik pernikahannya dengan anak dibawah umur, Busro akhirnya berganti istri, yakni Nurfitriana.

Wanita kelahiran Lombok 5 September 1978 ini, tiba muncul ke publik sebagai istri Busro Karim, menggantikan istri sebelumnya Ny Hj Wafiqoh Jamilah.

Tidak ada yang tahu, apa dan bagaimana penyebabnya. Yang jelas, Busro berpisah dengan Nyai Mila disaat ia menjadi pemimpin masyarakat Sumenep, sebuah tindakan yang diperbolehkan, namun sebenarnya dibenci oleh Allah SWT adalah bercerai.

Kasus perceraian Busro ini dinilai oleh sebagian orang sebagai bentuk gagalnya membangun hubungan keluarga atau bentuk kegagalan sang Kiai ini dalam memimpin biduk rumah tangga. (Dirangkum Dari Berbagai Media Online)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.