Perdebatan Atribut Islam Nusantara ala Jokowi


Dhimam Abror Djurai, Ketua Harian KONI Jawa Timur
Dhimam Abror Djurai, Ketua Harian KONI Jawa Timur

Dhimam Abror Djurai*
ISLAM apakah yang kita peluk sekarang? Islam Nusantara, Islam Indonesia, Islam Jawa, Islam kosmopolitan, Islam liberal, Islam konservatif, atau Islam-Islam lainnya? Seabrek atribut itu bisa ditempelkan di belakang “Islam” dan, setiap kali atribut tersebut ditempelkan, selalu saja timbul interpretasi bermacam-macam yang bisa menjurus pada debat berkepanjangan. Ketika beberapa tahun silam Islam diberi atribut ”liberal”, pro-kontra pun ter sulut seperti api yang memakan rumput ke ring.

Beberapa tahun ber jalan, perde batan itu nyaris tidak meng hasilkan apa-apa, kecuali debat wacana. Agenda-agenda yang dilempar aktivis Islam liberal tetap menjadi wacana, sementara kelompok-kelompok yang geregetan ingin memberangus gerakan Islam liberal pelan-pelan menyurut dan nyaris tak terdengar lagi. Beberapa waktu belakangan ini muncul kembali perdebatan setelah Islam diberi atribut ”Nusantara” oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pasti tidak ada yang baru dalam perdebatan tersebut. Itu adalah perdebatan yang berlangsung seumur Republik Indonesia. Sejak para founding fathers kita menggagas dasar negara, perdebatan tersebut mengemuka dalam kemasan yang berbeda. Islam Nusantara adalah sebuah gagasan akulturasi Islam. Nilai-nilai tertentu dalam Islam ”disesuaikan” dengan budaya Nusantara.

Alasannya, ketika Islam masuk ke Indonesia, sudah ada budaya yang terlebih dahulu tumbuh subur. Karena itu, tidak seharusnya budaya tersebut dihilangkan begitu saja.

Islam yang tumbuh di Nusantara adalah Islam khas Nusantara dengan berbagai pernik budayanya yang berbeda dari Islam yang masuk dari jazirah Arab dengan kultur yang berbeda.

Kubu lain meyakini bahwa Islam adalah ajaran yang utuh dan komplet sekaligus murni. Tidak boleh ada tambahan pernik-pernik budaya atau nilai lokal yang akan menodai kemurnian Islam yang berfondasi tauhid.

Sejarah mencatat, Islam diterima secara luas di tanah Jawa karena strategi dakwah yang menekankan pada akulturasi budaya. Yang terjadi kemudian adalah perpaduan antara tradisi Hindu-Buddha dengan tradisi baru Islam.

Sering tradisi-tradisi itu bisa menyatu, tetapi sering juga tidak berkesesuaian sehingga menimbulkan pertentangan berkepanjangan. Tradisi tahlil adalah salah satu contoh proyek akulturasi yang sampai sekarang membelah para pemeluk Islam menjadi dua kutub yang berseberangan.

Clifford Geertz dalam Agama Jawa menyebut tiga aliran, santri, abangan, dan priyayi. Santri adalah kelompok yang lebih puritan dalam menyelenggarakan agama. Abangan adalah kelompok Islam Nusantara yang akulturatif.

Priyayi adalah kelompok elite sosial yang dalam tradisi agama lebih dekat ke kelompok abangan. Studi tersebut tetap relevan sampai sekarang.

Definisi Islam Nusantara ala Jokowi memang belum jelas betul. Secara umum, maksudnya adalah Islam yang lebih toleran pada tradisi Nusantara yang dalam hal ini harus dibaca sebagai Jawa.

Mau tidak mau, Islam Nusantara adalah Islam yang dicap sebagai sinkretis karena penerimaannya terhadap unsur-unsur budaya Jawa yang kental dengan warna Hindu dan Buddha.

Dalam prinsip tauhid, tentu saja sinkretisme tidak diberi tempat. Pemurnian akidah menjadi hal yang mutlak. Dikotomi antara sinkretis dan tauhid tidak akan mudah dikikis.

Yang penting adalah bagaimana keduanya bisa saling menghormati. Islam Nusantara ala Jokowi adalah Islam yang toleran, tidak hanya terhadap rembesan budaya, tetapi juga toleran terhadap iman yang lain sehingga Islam tetap harus bisa menerima kebhinekaan sebagai bagian dari sunnatullah.

Sudah jelas, Islam adalah rahmatan lilalamin, rahmat bagi seluruh alam. Itulah tantangan bagi umat Islam. Yakni, bagaimana umat Islam bisa menempatkan dirinya sebagai sumber rahmat bagi seluruh alam.

Ketika menjadi minoritas, Islam harus menunjukkan penghormatannya kepada yang mayoritas. Ketika menjadi mayoritas, Islam harus bisa mengayomi kelompok minoritas. Dengan begitu, Islam akan bisa menampilkan wajah sebagai sumber kebahagiaan bagi semesta alam.

*Penulis adalah Ketua Harian KONI Jatim dan tulisan ini dipublikasi pada situs http://www.jpnn.com pada tanggal 21 Juni 2015

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.