Islam dan Tradisi Bakar Kemenyan


Oleh Mohammad Anis Sumadi
Masyarakat Madura Pada umumnya masih kental dengan tradisi-tradisi pembakaran kemenyan (dupah) sebelum melaksanakan acara, salah satu simbol kemantapan cara orang Madura berkepercayaan.

Biasanya ditandai dengan penyulutan kemenyan yang dilakukan pra acara, menurut mereka akan menjadikan perangkat dalam suatu acara tersebut menjadi lengkap dan sempurna.

Selain dari itu mereka berkepercayaan bahwa jikalau membakar kemenyan maka roh-roh halus di alam barzah itu datang ke rumahnya dan biasanya masyarakat aktif melakuan penyulutan tersebut pada malam Jumat.

Sepertinya malam Jumat dijadikan malam yang istimewa diantara malam-malam lainnya, semisal selain dari malam Jumat masyarakat sulit membakar kemenyan kecuali menyonson (mensucikan) keris atau barang-barang antik.

Tradisi yang begitu kental dengan hal-hal yang sifatnya irasional telah menjadi kebiasaan mereka sejak dahulu kala, karena tradisi penyulutan kemenyan adalah warisan dari sesepuh atau nenek moyang kita ini yang dimaksud dengan “melembaganya tradisi dan kultur”.

Kemenyan juga memiliki peran dalam pelaksanaan acara, bisa juga mempengaruhi kekhusyu’an para jama’ah semisal adanya tahlilan.

Tapi jangan sampai kebiasaan itu melampaui batas dengan kata lain “menjadikan nilai-nilai fanatisme” sebab tidak baik, justru akan merusak akidah dan keimanan bisa juga syirik.

Meskipun pada suatu hari nanti ada acara ketepatan pada waktu itu tidak ada kemenyan lansung saja dimulai jadi tidak ada pengaruh dari kebiasaan tersebut.

Bukannya tidak mau mengikuti tradisi atau kultur, melainkan unutk meminimalisir nilai-nilai fanatisme yang sudah melembaga dalam keyakinan masysrakat agar tidak terjerumus dalam kepercayaan yang salah.

Bukannya tidak boleh menganut kepercayaan yang salah, melainkan dikhawtirkan berbahaya terhadap pengaruh lingkungan sekitar. Begitu juga sebaliknya, menganut kepercayaan yang benar maka akan melahirkan suasana interaksi antar manusia dengan manusia yang lain sejahtera.

Membakar kemenyan (dupah) sebelum acara-acara yang sifatnya insidentil seperti, adanya tasayakuran perkawinan, kematian serta kelahiran selain dari adat-istiadat orang Madura juga termasuk sebagian dari sunnah Rasul karena menggunakan bau-bauan atau wangi-wangian dapat mendatangkan Malaikat.

Apabila kita pada saat beribadah dengan keadaan harum baik di luar rumah atau pun ruangan yang di tempati maka para Malaikat akan senang mengelilngi sekitar yang berbau wangi itu. Maka dari itu jangan sampai menganut ajaran Islam hanya sebagai kewajiban yang diadatkan saja, seperti kondisi umat Islam sebelum berdirinya HMI.

Selain dari itu sebagai umat Islam jangan sampai terpengaruh ke dalam “mistikisme” seakan-akan kehidupan ini hanya investasi kepentingan akhirat saja, melainkan harus ada stabilitas antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi agar tidak terjebak dalam hal-hal yang sifatnya mistik. Begitu juga dengan penyulutan kemenyan (dupah), sangat rawan kalau di Madura setiap ada acara seperti apa yang telah disampaikan di paragrap pertama, jadi meskipaun tidak ada kemenyan (dupah) tetap saja acara dilanjutkan.

Hanya saja perlu disesuaikan karena lingkungan di Madura sangat kental dengan yang namanya budaya lokal.

Dengan demikian sebagai insan yang berpendidikan dan berperadaban perlu kiranya untuk meminimalisir nilai-nilai keislaman yang selama ini sudah melembaga di kalangan masyarakat, hanya sebatas melaksanakan kewajiban belaka.

Memang perlu memegang teguh prinsip dalam maqail yang berbunyi “afdhalul ilmi ilmul hal” begitu bunyinya dalam kitab Hidayatul Adkiya’, tapi tetap saja perlu merubahnya sedikit demi sedikit paling tidak dari diri-sendiri agar tidak fanatik dan mistik.

Penulis adalah pengurus Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jawa Timur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.