Keluarga Korban Carok Kadur Datangi Mapolres Pamekasan


PAMEKASAN – Keluarga korban carok (perkelahian dengan menggunakan senjata tajam jenis celurit) di Desa Pamoroh, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Kamis (16/4/15), mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri dan Mapolres setempat, untuk mempertanyakan tindak lanjut pengembangan proses hukum kasus itu.

 “Kami sengaja datang ke Kejari dan Mapolres Pamekasan untuk mempertanyakan tindak lanjut pengembangan penyidikan kasus carok yang telah menyebabkan orang tua saya meninggal dunia,” kata salah seorang anak dari korban carok massal di kantor Kejari Pamekasan, Lukman Efandi.

Lukman merupakan anak dari korban carok meninggal dunia bernama Marsuki dalam peristiwa carok massal yang terjadi di Desa Pamoroh, Kecamatan Kadur, Pamekasan pada 20 November 2014.

Selain untuk mendapatkan informasi lebih detail tentang proses hukum kasus carok massal itu, dirinya bersama kerabat dan keluarga carok massal lainnya, juga ingin berkonsultasi seputar pengembangan kasus itu.

Menurut Lukan Erfandi, berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan beberapa hari lalu, pelaku carok yang telah menyebabkan ayahnya Marsuki meninggal dunia itu bukan hanya empat orang, tetapi 10 orang.

“Sebenarnya ada 11 orang, namun seorang diantaranya kembali, dan tidak sampai di lokasi carok,” katanya.

Kesepuluh orang yang terlibat dalam kasus carok massal itu, masing-masing bernama Sumanah, Budi, Sundari, Bahrawi, Muhlis, Musa’i, Zainul, Umam, Muhammad, dan Lupat.

Namun dari sepuluh orang yang terlibat itu, hanya empat diantaranya yang ditetapkan sebagai tersangka oleh tim penyidik Polres Pamekasan dengan alasan tidak cukup bukti.

“Kami selaku keluarga korban merasa ada rekayasa dalam proses hukum, karena dari 10 orang yang terlibat carok massal itu, hanya empat diantaranya yang ditetapkan sebagai tersangka,” katanya.

Keempat orang itu masing-masing Sumanah, Budi, Bahrawi dan Sundari. Keempat orang ini dinyatakan sebagai pelaku pembunuhan Marsuki dan seorang temannya yang bernama Hannan.

Padahal, kata Lukman, sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebagaimana diatur dalam Pasal 55, 56, 57 semua pihak yang terlibat dalam proses tindak pidana, baik memfasilitasi, ataupun membiarkan terjadinya tindak pidana kriminal, juga masuk sebagai pelanggaran pidana.

Kepala Kejaksaan Negeri Pamekasan Toto Sucasto saat menemui perwakilan keluarga korban carok massal itu menyatakan fakta baru yang terungkap di persidangan yang menyebutkan bahwa pelaku carok lebih dari empat orang sebagaimana yang disampaikan saksi dalam sidang kasus itu, bisa dikembangkan.

Hanya saja, sambung dia, dalam kasus ini yang berwenang melakukan pengembangan penyidikan kasus adalah polisi. “Kalau dalam kasus kriminal, jaksa tidak bisa melakukan pengembangan penyidikan. Kalau korupsi kami bisa,” katanya.

Oleh karenanya itu, “Totok” sapaan karib Kajari Toto Sucasto itu menyarankan, agar anak dan para keluarga korban carok massal tersebut, tidak hanya datang ke Kejari Pamekasan, tetapi juga ke polisi.

Setelah melakukan audiensi dengan Kejari, keluarga korban carok massal yang meninggal dunia (Marsuki dan Hannan) selanjutnya bergerak menuju Polres di Jalan Stadion Pamekasan.

Namun, mereka tidak bisa berdialog dengan pimpinan institusi itu, karena Kapolres Pamekasan yang baru, yakni AKBP Sugeng Muntaha, sakit.

Mereka selanjutnya kembali ke rumahnya di Desa Pamoroh, Kecamatan Kadur, dan berencana akan kembali mendatangi Mapolres Pamekasan dalam waktu dekat ini.

Kasus carok massal yang terjadi di Desa Pamoroh, Kecamatan Kadur, Pamekasan pada 20 November 2014 itu dipicu sengketa tanah sawah di Dusun Bates, Desa Pamoroh, yang kini masih dalam proses penelitian di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pamekasan.

Budi dan Sumanah, serta korban Hannan dan Marsuki sama-sama mengklaim tanah itu miliknya. Bahkan, Hannan dan Marsuki mengaku memiliki bukti kepemilikan tanah itu. Namun pihak Marsuki dan Hannan tetap menggarap lahan itu, hingga akhirnya terjadi carok yang menyebabkan mereka berdua tewas. (*/Rimanews)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.