Skandal Pejabat Publik di Madura (1)


Bangkalan (Blogger Madura) – Harta, Tahta dan Wanita. Tiga hal inilah yang menjadi ambisi bagi sebagian orang untuk memiliki, dan menguasainya. Orang yang memiliki harta bisa bertindak lebih, daripada orang yang tidak memiliki harta. Demikian juga dengan kekuasaan atau tahta.

Orang yang telah memiliki harta dan tahta, tidak jarang masih tergoda dengan wanita, dan fakta inilah yang menimpa sejumlah pejabat publik di Pulau Madura seperti yang diberitakan sejumlah media dalam beberapa tahun terakhir ini.

Skandal pejabat publik yang buming diberitakan berbagai media, baik media lokal, regional maupun nasional, khususnya media online, tentang kasus skandal pejabat publik di Madura ini, tidak hanya menimpa pejabat tewas pemkab yang ada di Pulau Garam itu, akan tetapi, juga beberapa bupati, bahkan yang berstatus sebagai kiai, yakni orang dianggap paham agama.

Sebut saja, misalnya Bupati Pamekasan periode 2008-2014 Drs KH Kholilurrahman, Bupati Sumenep KH Abuya Busro Karim dan Bupati Bangkalan Moh Makmun Ibnu Fuad.

Dari anggota DPRD, nama M Hoseh, dan M Hasan Ahmad alias Ihsan, keduanya merupakan anggota DPRD di Kabupaten Sampang dari partai Islam, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Bulan Bintang (PBB). Selain itu, mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Sampang Wisno Hartono, juga menghiasi pemberitaan di berbagai media, karena terlibat pencabulan anak dibawah umur.

KH Kholilurrahman
Seperti yang diberitakan detik.com pada tanggal 17 Oktober 2011, Bupati Pamekasan Periode 2008-2014 Kholilurrahman sempat didemo puluhan warga tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Hukum Indonesia (PMHI). Mereka menggelar demo di depan Mapolda Jawa Timur Jalan Ahmad Yani Surabaya.

KASUS KHOLILURRAHMANDalam aksinya, mereka minta Polda Jatim agar mengusut tuntas kasus dugaan pemalsuan yang dilakukan Bupati Pamekasan Kholilurrahman, terkait surat yang digunakan untuk memperkuat bukti menikahi gadis asal Blitar.

“Jangan ada tebang pilih dalam penegakan hukum, walaupun terlapornya adalah pejabat publik,” ujar Jubir PMHI, Rastra Samara di sela-sela aksinya, kala itu, Senin (10/10/2011).

Kasus yang menjerat Bupati Pamekasan itu dilaporkan istrinya ke Polda Jatim dengan nomor laporan polisi LPB/484/IX/2011/Jatim dengan pasal 263 dan 266 KUHP tentang memberikan keterangan palsu.

Ceritanya, sebelum melaporkan kejadian tersebut, sekitar tahun 2003 Kholil berkenalan dengan Eriska Dewi Kusnanda di sebuah mall di kawasan Surabaya Timur. Selang setahun kemudian, sekitar April, bupati menikahi Eriska secara siri di Desa Ngadri Kabupaten Blitar. Dua minggu kemudian, keduanya menikah secara resmi di KUA Kesamben Blitar.

Meski sudah memiliki istri sah, ternyata Kholillurahman mengaku sebagai duda mati yang dikuatkan dengan surat keterangan yang dikeluarkan dari perangkat desa di wilayah Kabupaten Sampang.

Selain itu, juga ada surat keterangan kematian atas nama Royhana istri pertama bupati. Padahal, Royhana sampai saat ini masih istri sah dan masih hidup.

Kehidupan Eriska dan Kholillurahman awalnya berjalan harmonis. Selang 3 tahun kemudian, Kholillurahman menghilang dari Blitar dan tahun 2007, terbit surat kematian atas nama Kholillurahman yang dikeluarkan oleh salah satu desa di Sampang. Nyatanya, Kholillurhman masih hidup, dan menjabat sebagai Bupati Pamekasan.

“Ada indikasi kasus ini mau dipetieskan. Karena itu, kami meminta Kapolda tidak tebang pilih dan mengusut tuntas kasus pemalsuan surat oleh Bupati Pamekasan,” jelasnya.

Selain berorasi, mereka juga menggelar berbagai poster. Diantaranya bertuliskan: ‘Usut tuntas kasus pemalsuan surat Bupati Pamekasan’, ‘Lanjutkan proses hukum terhadap Bupati Pamekasan’,’Jangan ada tebang pilih dalam penegakan hukum’ dan berbagi poster lainnya.

Di tempat terpisah, Kepala Desa Bulmatet Sampang, Idris Wahyudi, mengaku tidak pernah menandatangani atau membuat surat kematian atas nama Kholillurahman.

“Saya nggak pernah kenal dengan orang itu. Surat itu palsu, karena nama desa, nomor surat tidak tercantum. Anehnya kok ada tanda tangan mengatasnamakan saya,” ujar Idris saat akan menjalani pemeriksaan di Ditreskrimum Polda Jatim. Berita yang sama terkait pemalsuan identitas mantan Bupati Pamekasan Kholilurrahman ini lihat situs antarajatim.com.

Saat menikah dengan istri mudanya Eriska Dewi Kusnanda itu, KH Kholilurrahman mengubah namanya menjadi Kholidurohman. Sebagaimana dilangsur situs mahkamahagung.go.id, saat menikah dengan gadis Blitar itu, nama KH Kholilurrahman tercatat Kholidurrahman Bin H Hasan (Alm) dan istri mudanya Eriska Dewi Kusnanda Binti Samiin.

Demo meminta Polda Jatim untuk mengusut pemalsuan identitas surat kematian palsu atas dirinya dan istrinya Royhana Kholil pada tanggal 10 Oktober 2011 sebagaimana diberitakan detik.com itu, bukan yang pertama kali terjadi. Demo kedua juga digelar kelompok ini pada tanggal 1 Desember 2011 sebagaimana diberitakan centroone.com.

Dalam rilis yang disampaikan ke wartawan Pamekasan, (Kiai pengasuh pondok pesantren Matsaratul Huda Penempan) ini mengaku, dirinya siap mempertanggung jawabkan semua tudukan itu, bahkan siap memberikan penjelasan kepada tim penyidik Polda Jatim, seperti yang diberitakan detik.com pada tanggal dan hari yang sama.

KH Abuya Busro Karim
Sorotan tentang dugaan skandal Bupati Sumenep KH Abuya Busro Karim ini juga banyak diberitakan berbagai media online, saat bupati mandi bareng di Taman Sare, yakni taman mandi raja-raja Sumenep tempo dulu, serta kabar pernikahannya dengan anak SMA asal kepulauan Sumenep.

BUSRO MANDI BARENG

Foto KH Abuya Busro Karim mandi di Taman Sare dengan Ayu Azhari

Sebagaimana dilansir tribunnews.com, akibat kasus itu, puluhan aktivis pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Pemuda Mahasiswa Sumenep (KPMS) berunjukrasa di kantor Bupati Sumenep di jalan dr Cipto Sumenep, Selasa (12/2/2013).

Mereka menuduh KH Abuya Busyro Karim telah berbuat “kotor” yang dapat mencederai dan melukai warga Sumenep.

Aktivis KPMS yang berjumlah sekitar 50 orang itu datang dengan longmarch ke Kantor Bupati Sumenep di Jalan Dokter Cipto membawa sejumlah poster yang bertuliskan kecaman terhadap bupati dan gambar Bupati Busyro Karim yang dinilai tidak layak dan tidak senonoh karena dinilai tidak pantas dilakukan oleh seorang bupati.

Diantara poster-poster itu bertuliskan “Bupati, jangan kotori Taman Sare”, “Perempuan Bukan Pemuas Nafsu Bupati”,  “Audit Tuntas Aliran Dana BPRS”. Dan beberapa foto-foto bupati yang dibawa para pengunjukrasa. Termasuk gambar Bupati yang sedang mandi bersama-sama beberepa staf Pemkab di Taman Sare bersama artis senior Ayu Azhari.

Korlap Aksi, Mashari menilai, salah satu bentuk perbuatan bupati yang dinilai mengotori lingkungan Keraton Sumenep, yakni ketika artis senior Ayu Azhari berkunjung ke Keraton Sumenep beberapa waktu lalu menceburkan diri ke Taman Sare yang diikuti oleh sejumlah pejabat, termasuk Bupati Busyro Karim.

“Itu salah satu bentuk Bupati mengotori lingkungan keraton yang keramat, karena dengan sengaja mandi di Taman Sare bersama artis panas Ayu Azhari,” teriak Mashari, kala itu.

Pengunjukrasa juga menuntut Bupati Sumenep menjelaskan secara detail kepada masyarakat soal isu bahwa bupati telah berbuat sesuatu yang menghilangkan rasa kepercayaan masyarakat Sumenep dengan berbuat yang tidak patut dan melanggar azas kepatutan.

“Kami mendengar bahwa bupati telah menikahi secara siri seorang  gadis dibawah umur, dan itupun berlangsung singkat, karena kemudian mereka diceraikan,” sambung Mashari.

Pihaknya menutut kepada Bupati agar segera mengklarifikasi terkait isu yang berkembang di masyarakat. Karena bilamana itu benar, maka pihaknya sebagai bagian dari masyarakat Sumenep menolak bilamana harus dikotori oleh perbuatan yang mencederai kehidupan masyarakat Sumenep. BUPATI BUSRO

Sementara itu para pengunjukrasa yang ditemui Kabag Humas dan Protokol, Abd Kahir menolak dengan tegas tudingan bahwa bupati telah berbuat asusila atau mengotori lingkungan keraton Sumenep.

Karena pada saat bupati mandi di Taman Sare, bukan berduaan dengan Ayu Azhari tetapi dengan ratusan warga lainnya yang ingin mandi di Taman Sare karena diyakini bisa membikin seseorang awet muda.

“Jadi, tidak benar kalau Bupati mengotori Taman Sare, dan itupun bukan dilakukan bupati sendirian, apalagi tuduhan mandi berduaan dengan Ayu Azhari. Karena ratusan orang menyaksikan kok,” tegas Kahir.

Soal tudingan kawin siri dan sebagainya, Kahir menyatakan tidak tahu pasti terkait isu tersebut. Bahkan ia menilai tudingan itu hanya sebagai upaya menjelek-jelekkan atau  mau menyudutkan bupati Sumenep dengan tudingan berbuat tidak patut.

“Itu itu kami tidak tahu, karena kebetulan Bapak Bupati saat ini sedang di Surabaya menunggu bapaknya yang sedang  dirawat di salah satu rumah sakit di Surabaya,” pungkasnya.

Protes pengunjuk rasa ini tidak hanya terkait pernikahan siri bupati, akan tetapi juga tentang perceraiannya dengan istri pertamanya disaat yang bersangkutan menjabat sebagai pemimpin warga Sumenep. Menurut massa, Busro Karim telah gagal memimpin Sumenep dan tidak bisa menjadi teladan, demikian seperti diberitakan forum.girilaya.com.

Moh Makmun Ibnu Fuad (Ra Momon)
Skandal Bupati Bangkalan mulai mencuat di berbagai media, setelah foto mirip dirinya yang berciuman dengan seorang perempuan beredar luas di internet.

Berita8.com pada tanggal 19 Februari 2013 memberitakan, foto mesum mirip Ra Momon, sapaan akrab Moh Makmun Ibnu Fuad diduga beredar pascakemenangan dirinya dalam pilkada yang digelar pada 12 Desember 2012.FOTO MESUM RA MOMON
Dalam foto-foto yang juga banyak beredar di situs jejaring sosial tampak sosok laki-laki mirip Momon tersebut sedang asyik berduaan diatas ranjang dan adegan ciuman.

Ada 6 buah foto yang beredar melalui telepon genggam warga Bangkalan. Dalam foto-foto tersebut, sesosok pria mirip calon bupati nomor urut 3, Ra Momon, tengah berpose mesra dengan seorang wanita. Salah satu foto menunjukkan sang pria bertelanjang dada sambil tangan kanannya memeluk wanita tersebut. Sekilas terlihat seolah sang wanita hanya mengenakan pakaian dalam berwarna merah.

Di foto lainnya, lelaki berkulit sawo matang dan berambut cepak tersebut nampak mencium wanita yang sama, namun masih mengenakan pakaian semacam tanktop warna hitam bermotif warna-warni.

Salah seorang warga Bangkalan mengaku, foto tersebut merupakan foto asli cabup nomer urut 3. Tampilan fisik pria dalam foto tersebut sangat mirip. “Iya betul itu Ra Momon. Mukanya persis. Wanitanya itu simpanannya mungkin,” katanya sebagaimana diberitakan amarinews.com.

Karena setahu saya dia (Ra Momon,red) istrinya bukan itu,” ujar salah satu warga yang keberatan disebut namanya. Informasi yang beredar, wanita dalam foto tersebut merupakan warga Sidoarjo. Belum jelas apakah foto tersebut benar Ra Momon dengan ‘kekasih gelapnya’ karena konfirmasi resmi dari yang bersangkutan, belum bisa didapat.

Beberapa hari kemudian, Momon membantah bahwa foto itu bukan dirinya, akan tetapi hanya rekayasa saja. Bahkan Momon mengancam melaporkan penyebar foto bugil mirip dirinya itu, ke polisi dan telah mengantongi dua nama.

Seperti yang diberitakan situs republika.co.id, putra RKH Fuad Amin Imron itu menyatakan, gambar itu hanya rekayasa komputer yang sengaja dilakukan lawan politiknya untuk menjatuhkan nama baiknya di hadapan masyarakat Bangkalan.

Namun meski membantah, namun pihak berwajib hingga saat ini belum mengumumkan apakah gambar yang beredar itu, memang rekayasa, seperti yang dinyatakan Momon, atau foto yang sebenarnya. (Bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.